dont disturb!!? if you know me

Thursday, July 06, 2006

praktek perjokian

Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru – SPMB perguruan tinggi negeri atau PTN di Makassar / tahun ini kembali diwarnai praktek perjokian // Padahal sebelumnya / PTN telah berkomitmen untuk memperketat pengawasan SPMB / sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan //

Praktek perjokian itu di temukan di sejumlah tempat pelaksanaan SPMB / seperti di SMA negeri satu makassar // Koordinator pengawas lokal Rayon C SPMB Unhas – Syamsir Dewang mengungkapkan / kejadian itu bermula dari kecurigaan pengawas terhadap salah satu peserta / yang baru mengerjakan soal sesaat sebelum waktu pelaksanaan SPMB berakhir // Pengawas akhirnya mendatangi pelaku yang menggunakan nomor test 106 – 81 – 025 – 41 atas nama Ishlah Astuti // Ishlah diketahui mendapat jawaban dari joki / melalui ponsel yang disembunyikan dibalik kerah bajunya //

Hal sama juga terjadi di SD negeri Sudirman IV // Menurut Pengawas ruangan KB 055 SDN Sudirman IV makassar – Rahayu / pengawas mulai curiga karena selama pelaksanaan SPMB pelaku selalu terlambat masuk ke ruangan / sekitar 5 hingga 10 menit setelah ujian dimulai // Pengawas akhirnya menemukan wajah pelaku tidak sesuai dengan foto yang tercantum pada kartu test pelaku // Pelaku akhirnya mengakui bawah nomor test tersebut adalah milik saudaranya yang bernama Hasrial // Sementara pelaku sendiri bernama kilyunar - mahasiswa Universitas Kristen Indonesia Paulus – UKIP //

Menanggapi temuan tersebut itu / Ketua Panitia Lokal 81 Unhas – Dadang Ahmad Suriamiharja mengatakan / pihaknya sudah mendapat laporan dari tim pengawas / dan akan menindaklanjuti temuan itu // Saat ini / panitia SPMB Unhas tengah memproses para pelaku perjokian itu // Menurut Dadang / jika terbukti melakukan pelanggaran / para pelaku dinyatakan batal mengikuti SPMB //

Meski terjadi praktek perjokian / Dadang menilai / secara umum kualitas pelaksanaan SPMB tahun ini lebih baik dibanding tahun lalu // Hal itu tidak lepas dari sistim pengawasan SPMB yang lebih ketat dibanding tahun lalu // Dadang mengatakan / untuk menghindari praktek perjokian / panitia SPMB menyiapkan 2 pengawas untuk satu ruangan / yang diisi sekitar 60 calon mahasiswa // Panitia juga menyediakan ruangan khusus bagi bagi peserta SPMB yang terlambat masuk // Namun / hingga pelaksanaan SPMB usai / ruangan itu tidak digunakan //

Dadang berharap / pelaksanaan SPMB tahun ini menjadi awal perbaikan kualitas pendidikan di PTN di Makassar / khususnya Universitas Hasanuddin //

Berbeda dengan Unhas / pelaksanaan SPMB di universitas negeri makassar berjalan lancar tanpa diwarnai kasus perjokian // Universitas tersebut menerapkan model pengawasan dengan melakukan crossing nomor pendaftaran / sehingga tidak satu pun peserta ujian dengan nomor pendaftaran berurutan / ditempatkan dalam satu ruangan // Selain itu / panitia membentuk tim pengawas khusus SPMB yang direkrut dari pejabat dilingkup universitas // Pengawas ujian ruangan / tidak dibenarkan meninggalkan ruangan / sepanjang ujian masih berlangsung //

Kalangan akademisi di Makassar menilai / Praktek perjokian itu terjadi karena persaingan untuk lulus DI PTN / cukup ketat // Sebagai perbandingan / Jumlah pendaftar SPMB di Universitas Hasanuddin mencapai 14 ribu orang / sementara yang akan di terima hanya sekitar 3 ribu orang // Sedangkan di universitas neger makassar / jumlah pendaftar tercatat 3 ribu 100 orang / sementara yang akan diterima hanya 1800 calon mahasiswa //

By : hendra nick @ smartfm mks

Thursday, May 25, 2006

roti ala maros

Bisnis Roti Maros – Roma
By : Hendra Nick
Smart Fm Makassar

Sejumlah penumpang bus jurusan Makassar-Maros-Enrekang, yang berhenti di pelataran parkir sebuah toko roti terlihat berdesakan turun. Para penumpang tersebut langsung menghampiri etalase toko. Terlihat tumpukan roti yang dibungkus kertas koran tersusun rapi. Seorang pembeli menyodorkan Selembar uang kertas pecahan 5.000 rupiah.

Pemandangan seperti itu, terjadi hampir setiap jam sepanjang hari. Toko roti itu selalu menjadi tempat berhenti bus jurusan makassar ke arah utara. Roti khas maros tersebut akhirnya lebih di kenal dengan roti Maros.
Sekitar 27 kilo meter dari kota makassar / sebuah toko roti maros milik 4 bersaudara tampak di tunggui oleh salah seorang anak dari pemilik toko roti bersaudara tersebut. Dengan senyum manis yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Imelda demikian nama anak pemilik toko roti, terus melayani pembeli yang semakin malam semakin banyak.

Imelda menceritakan, sebelum kenaikan harga barang yang cukup tingggi beberapa waktu terakhir, harga roti maros per-bungkusnya bisa di dapat seharga 2.000 rupiah per bungkus. Namun seiring kenaikan harga bahan baku seperti terigu yang mencapai 85 ribu rupiah per-sak, paket harga terendah sebesar 5.000 rupiah per-bungkusnya.

Imelda mengungkapkan, rata – rata pendapatan yang di peroleh sekitar 3 hingga 4 juta rupiah per-harinya. Menurutnya, setiap plat roti maros dapat menampung sekitar 5 hingga 6 potong roti maros. Rata – rata per-harinya sekitar 40 plat terjual habis.

Roti maros itu sendiri sangat beragam, tergantung ari isi roti tersebut. Menurut Imelda, Isi roti maros di sesuaikan dengan selera pembeli. Daya tahan tahan roti maros juga lebih unggul di bandingkan jenis roti impor yang juga di jual di toko roti yang berada di jalan poros makassar maros tersebut.

Imelda menjelaskan, isi roti maros di buat dari bahan dasar selai yang berasal dari campuran gula merah dan santan. Penampilannya pun cukup sederhana. Sebelum di kenal masayrakat luas hingga ke seantero sulawesi selatan, roti maros hanya merupakan roti kampung, yang konon di buat bagi konsumsi masyarakat menengah ke bawah.

Seiring perkembangan jaman, industri rumah tangga pembuat roti maros menjadi industri kerakyatan yang potensial untuk di kembangkan. Hal itu seperti di tuturkan Pemilik Toko Roti Bersaudara H. Murni. Menurutnya perkembangan usaha roti maros telah membantu Ia dan keluarganya dalam memenuhi kebutuhan sehari – hari. Menurut H. Murni, sebagian besar keluarganya juga berkecimpung di industri serupa.

Menurut penuturan Haji Murni, industri roti maros di mulai sejak puluhan tahun silam, yang berawal dari kakeknya, yang pernah bekerja pada pabrik roti milik orang Belanda. Pada awal merintis usaha pabrik roti maros, dengan modal 10 kilogram tepung terigu. Saat itu, roti maros bentuk roti maros masih seperti bakpao berwarna putih.
Murni menjelaskan, cara pembuatan roti hanya menggunakan alat – alat yang cukup sederhana. Biasanya, mereka menggunakan alat pemanggang roti yang dindingnya terbuat dari batu bata. Sementara mesin pompa di gunakan untuk membuat pembakaran.

Saat ini pembuat roti maros sudah menggunakan peralatan modern, seperti oven berbahan bakar gas elpiji, mixer, rak roti, loyang, proofing final box, untuk mempercepat pengembangan adonan roti dan memperbagus kulit roti setelah dioven. Menurut Murni, ia juga mengikuti perkembangan teknologi pembuatan roti seperti ke-tiga saudaranya yang sudah terlebih dahulu suksesdalmusaha pembuat roti maros.

Menurut Murni, sejak tahun 1997 silam indsutri pembuatan roti maros milik keluarganya berkembang sangat pesat. Sepanjang jalan poros makassar maros toko roti maros milik keluarga haji mumu sudah mencapai 11 toko. Saat ini pengeloaan roti maros sudah memasuki generasi ketiga.
Dari sebelas toko roti maros milik keluarga haji mumu, setiap tokonya mempunyai cita rasa sendiri sendiri. Misalnya saja toko roti milik imelda, yang lebih menonjolkan aroma roti maros vanili.

Dahulu roti maros di bungkus dengan plastik bening, setelah itu di tutup dengan kertas roti. Namun, sejak harga kertas roti mahal. Sejak tahun 1990-an kertas roti di ganti dengan kertas koran, yang ternyata justru menjadi ciri khas n roti maros.

Sejauh ini sistim pemasaran dari roti maros terbilang unik yakni dengan menjalin hubungan baik dengan para sopir angkutan antar daerah yang melintas di depantooko roti tersebut. Teknik ini dinilai cukup efektif dalam mengenalkan roti maros hingga ke penjuru darah di sulawesi selatan. Selain itu distribusi juga tetap dilakukan di beberapa tempat seperti warung atau kios – kios dengan sistem penitipan.

Keuntungan yang direguk industri roti kelas rumahan sudah pasti menjadi incaran pemerintah daerah setempat melalui pajak. Hal tersebut sejalan dengan perilaku pemerintah daerah dalam era otonomi daerah. Pungutan pajak merupakan salah satu cara pemda untuk meningkatkan pendapatan asli daerah – PAD.

Sejauh ini, kontribusi industri roti maros cukup besar bagi Pemerintah Kabupaten Maros, melalui pajak penjualan, pajak reklame, dan retribusi parkir, serta peningkatan daya serap tenaga kerja. Toko roti Sanggalea, Istana, Zazil, dan Setia Kawan misalnya, saat ini mempekerjakan lebih dari seratus karyawan/ dan beromzet puluhan juta rupiah per bulan. Jumlah itu belum ditambah dengan toko-toko yang beromzet lebih kecil.

Tuesday, May 23, 2006

"keindahan kepulauan di makassar"

Pulau Kondingareng

Deretan bangunan bangunan tua peninggalan belanda , jepang dan warga etnis tionghoa, yang secara periodik bermukim di daerah tersebut. seakan memberikan ucapan selamat datang, begitu menginjakkan kaki di salah satu gugusan pulau indah yang ada di kota makassar. Pulau kondingareng yang terletak sekitar 11 mil dari kota makassar hanya dapat ditempuh dengan menggunakan perahu bermotor. Perahu tersebut biasa di gunakan masyarakat setempat untuk mencari ikan, namun pagi hari di fungsikan untuk angkutan penumpang. Masyarakat setempat menyebut kapal kayu bermesin diesel tersebut dengan “Jolloro”. Perjalanan dari makassar ke pulau kondingareng biasanya membutuhkan waktu sekitar 60 menit lebih.

Menginjakan kaki di pulau seluas 48 hektar tersebut seakan mendatangi kampung sendiri, dengan sambutan hangat masyarakat kepulauan kondingareng. Pulau yang berpenghuni sekitar 900 kepala keluarga itu menggunakan beragam bahasa, seperti juga keragaman keindahan sumber daya alamnya yang menakjubkan seperti populasi ratusan jenis ikan, terumbu karang, padang lamun, serta hutan mangrove yang menjadi daya tarik besar bagi wisatawan.

Seperti di ungkapkan oleh salah satu anggota karang taruna di pulau tersebut Doyo’. Berdasarkan sejarah, pulau kodingareng tersebut terbagi atas 3 kampung yakni kampung bojong, kampung mandar, serta kampung etnis tionghoa. Menurut Doyo’, kodingareng dahulu terkenal dengan satu - satunya pulau yang memiliki sarana pendidikan tertua di sulawesi selatan, peninggalan belanda. Doyo’ mengungkapkan, sarana pendidikan tersebut telah mencapai usia sekitar 96 tahun. Pusat pendidikan yang di kenal dengan nama over lagen kala itu, di gunakan untuk para anak-anak bangsawan keluarga Belanda.

Doyo’ menyayangkan, perhatian pemerintah daerah terhadap pusat pengembangan pendidikan bagi masyarakat kepulauan itu masih kurang. Sekitar 80 persen masyarakat kodingareng hanya mampu menyelesaikan pendidikan tingkat Sekolah Dasar saja. Satu-satunya sekolah yang di miliki pulau tersebut hanyalah gedung sekolah peninggalan Belanda yang sudah tidak layak lagi untuk di gunakan. Sehingga sebagian anak pulau yang ingin melanjutkan sekolah, terpaksa harus berhenti. Sebab biaya sekolah untuk pendidikan SMP membutuhkan biaya yang cukup besar. Doyo’ mengungkapkan, anak – anak di pulau tersebut lebih memilih untuk mengikuti jejak orang tua mereka bekerja sebagai nelayan di banding harus melanjutkan sekolah.

Doyo’ menjelaskan pulau kodingareng telah lama di tempati berbagai pendatang dari belahan bumi ini, mulai dari para penjajah hingga para saudagar yang datang dari negeri china. Menurut Doyo’ pulau kondingareng, selalu menjadi daya tarik para penjajah yang ingin masuk ke makassar. Konon letak pulau kodingareang sangat strategis untuk di jadikan benteng pertahanan dan tempat pemantauan serangan musuh yang ingin masuk ke pulau Celebes. Selain tanah tersebut di duduki oleh sejumlah penjajah Belanda dan Jepang, para saudagar dari cina pun pernah bermukim di kepulauan tersebut. Menurut Doyo’, tanda – tanda kehidupan para saudagar cina dapat di temukan pada peninggaalan berupa kuburan tua, sumur tua, serta beberapa pernak – pernik dari china yang hingga kini masih banyak di gunakan warga setempat untuk melakukan aktifitas sehari – hari. Seperti perlengkapan alat – alat dapur yang berbentuk keramik asal china.

Hal sama di ungkapkan ILO, salah satu warga pendatang dari suku mandar dan telah bermukim selama bertahun – tahun di pulau kodingareng. ILO menceritakan pulau kodingareng merupakan gugusan pulau terbesar di daerah ini, dimana sebagian besar masyarakat pulau ini menerapkan Syariat Islam dan masih menggunakan adat istiadat dari beberapa suku yang ada di sulawesi selatan. Menurut ILO ritual yang masih biasa di lakukan masyarakat kepulauan kodingareng adalah pelepasan perahu nelayan dalam melaut, huni rumah baru yang biasa di warnai dengan onde – onde atau istilah umba – umba.

Pulau kondingareng juga memiliki satu pulau yang terletak di sisi barat yang di namakan “Kodingareng keke”.Sebuah pulau yang di sewakan pemerintah kota makassar, kepada sepasang suami-istri warga negara belanda yang akrab di sapa “Mr. Yan”. Sepasang suami istri itulah yang mengelola dan menyewakan sejumlah cottage, serta peralatan selam seperti BCD, Regulator, Fins, Snorkel. Seperti di ungkapkan Staff Pengembangan Pariwisata Disbudpar Sulsel Lansana Menurut Lansana, dengan menggunakan indeks yang ditetapkan oleh disbudpar, identifikasi yang dilakukan menyatakan bahwa potensi bawah laut yang ada di Pulau Kodingareng layak di gunakan sebagai daerah tujuan wisata selam // Dukungan jarak pandang yang mencapai 20 meter dan jenis ikan yang rata-rata mencapai 30 jenis, makin menambah laiknya potensi wisata selam yang ada di sana. Belum lagi keindahan terumbu karang yang keberadaannya 80 persen masih alami.

Lansana juga menyayangkan tindakan masyarakat kepulauan yang belum menyadari pentingnya pemanfaatan kondisi alam di sekitar pulau. Lansana menambahkan pengetahuan tentang pemanfaatan lingkungan sekitar pulau di nilai masih kurang di implementasikan terhadap masyarakat kepulauan di daerah ini.

By : Hendra Nick smart fm mks

Thursday, May 18, 2006

my praying

My praying

Mengapa hati dan jiwa selalu ingin berteriak // segala sesuatu yang nampak di depan mata / seolah olah semuanya busuk // Apa yang terjadi BAPA / mengapa jiwa kami selalu seperti ini // Apakah pola pikir? Hati dan jiwa kami tidak bisa lagi menerima sesuatu yang positif / ataukah pesoalan hidup harus mempengaruhi segala tingkah laku kami yang baik // Bapa !!? banyak hal yang ingin kami lakukan // Diantaranya adalah menyenangkan Mu / melayani orang banyak / serta memiliki kasih yang besar kepada sesama / tanpa terkecuali //

APA YANG TERJADI yaa....... Bapa / ubah diri kami menjadi seperti yang kau inginkan // Berikan kami petunjuk untuk bisa mengontrol segala hal – hal yang membuat hati kami menjadi GUNDAH // Buatlah agar harapan kami slalu bersandar kepada Mu yaa.... Bapa // Buanglah jauh – jauh pikiran – pikirn yang tidak berkenan dengan harapan Mu / kami anak Mu mohon petunjuk / berikanlah kami limpahan kasih yang dapat kami bagikan kepada anak MU yang lain //


( Newsroom , Jumat 21 April 2006 Dini hari jam 03.35 WITA )

Sunday, May 14, 2006

GERABAH TAKALAR DI SULAWESI SELATAN

GERABAH TAKALAR DI SULAWESI SELATAN
Reporter : Hendra Nick

Kabupaten Takalar Sulawesi selatan di sebut – sebut sebagai salah satu daerah penghasil keramik terbesar di Indonesia // Saat ini di takalar terdapat lebih dari 2000 pengrajin gerabah / yang umumnya masih menggunakan pola tradisional // Meskipun demikian / para pengrajin tersebut mampu menghasilkan lebih dari 1000 gerabah dalam se-bulan//

Selama ber – abad abad lamanya / keramik dari takalr biasanya diangkut dengan perahu untuk dijual ke seluruh kepulauan di indoensia // Keramik yang di hasilkan biasanya adalah produk kebutuhan rumah tangga // Seiring perkembangan jaman / permintaan gerabah takalr pun semakin meningkat // Saat ini pengangkutan gerabah takalar sudah menggunakan truck – truck dari beberapa daerah di Sulawesi sudah mulai masuk ke perkampungan mereka // Gerabah olahan tangan masyarakat takalar pun telah mampu men-dominasi pasar Sulawesi dan sebagian wilayah kawasan timur Indonesia / setelah produk Plered jawa barat dan Kasongan milik Yogyakarta //

Memasuki kabupaten takalar / para pengrajin gerabah bisa dijumpai di sebagian besar industri rakyat di kabupaten takalar // Selain di Kecamatan Pattalassang / para perajin gerabah juga dapat dijumpai di Kecamatan Mappakasunggu // Para perajin gerabah tersebut bisa ditemui di Dusun Sandi, Kelurahan Pallantikang// Dari kampung itulah gerabah-gerabah hasil olahan tangan masyarakat takalar menyebar ke segenap penjuru Sulsel bahkan ke luar provinsi // Sejumlah daerah tercatat sebagai pemasok tetap gerabah takalar / seperti Makassar, Bulukumba, Parepare, Bone, Gowa, dan Luwu, // Sementara di luar sulsel / Kendari - Sulawesi Tenggara dan Manado - Sulawesi Utara, serta kota-kota di Kalimantan //

Meskipun persaingan industri barang – barang plastik yang tahan lama serta murah / telah mempengaruhi pasar gerabah takalar // Namun Sekelompok pengrajin yang tergabung dalam Himpunan Pengrajin Gerabah Sitallasi - HIPERGASI Takalar menyikapi persaingan itu dengan menggabungkan keahlian turun temurun dan metode mutakhir yang ramah lingkungan // Asosiasi pengrajin keramik Sitallassi yang dalam bahasa makassar bermakna ‘saling menghidupi’ adalah organisasi dari pengusaha kecil perorangan di sentra keramik Takalar // Organisasi itu dibentuk pada bulan mei 2002 lalu sebagai wadah bagi setiap anggota dalam membagi keahlian dan keterampilan mereka mengembangkan daya saing gerabah / baik secara domestik maupun internasional // Pengrajin gerabah tanah liat takalar / hingga kini terus memperluas dan mengembangkan produk yang lebih menarik di pasaran // Demikian ungkap Ketua HIPERGASI takalar – Abdul Hamid //

Anggota-anggota HIPERGASI takalar sendiri telah membuat barang-barang glasir yang bebas dari penggunaan timah hitam atau timbal // Mereka menciptakan home industri yang betul-betul baru / sehingga gerabah takalar memiliki reputasi berkualitas dan superior dengan desain yang lebih progressif // Menurut Abdul / walaupun bahan baku gerabah takalar masih bergantung glasir dari pulau jawa / namun desain produk tersebut masih mempertahankan ciri khas gerabah ala’ sulsel //

Salah satu Investor asal Kanada – Jack pun mengakui / gerabah takalar memiliki potensi yang cukup besar untuk di kembangkan // Pasalnya / desain dan bentuknya di nilai cukup variatif dan memiliki seni yang tinggi // Selain itu / tungku pembakaran yang di gunakan pengrajin Takalar tidak jauh berbeda dengan tungku pembakaran yang ada di negeri Kanada // Tungku milik pengrajin Takalar dengan luas sekitar 1 meter per-segi itu kabarnya hanya terdapat satu – satunya di Indonesia //

Hanya saja / pemasaran produk itu / membutuhkan waktu lama untuk bersaing dengan produk keramik lainnya seperti China dan Vietnam // Menurut Jack / para pengrajin takalar saat ini masih mengandalkan cara - cara pemasaran produk dari rumah ke rumah // Cara konvensional itu / ungkap Jack / cukup menyulitkan pengrajin takalar untuk memperkenalkan produk mereka ke sejumlah pasar Internasional seperti Asia Tenggara dan Eropa // Namun / jack optimis / dengan kerjasama pemerintah kabupaten Takalar dan pemerintah kanada dalam pengembangan gerabah takalar /pasar gerabah takalr akan semakin berkembang //

Jack juga mengungkapkan / pemerintah kanada telah menyiapkan tempat pelatihan dan pusat inovasi bagi komunitas pengrajin gerabah di 4 desa tersebut // Studio pelatihan keramik sitallassi memfasilitasi pengembangan industri gerabah lokal yang meliputi barang-barang keramik berglasir halus dan berkualitas yang siap dipasarkan pada pasar ekslusif // Studio pelatihan merupakan bagian strategi utama dalam membangun merek yang kuat dan pada akhirnya mampu memenuhi permintaan tenaga kerja yang terampil dengan tingkat pendapatan yang lebih baik //

Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Takalar Hamzah Berlian / studio pelatihan keramik sitallassi terlaksana atas bantuan keuangan dari pemerintah Canada melalui Canada Fund dan bantuan tehnis dari proyek partisipasi peran usaha swasta atau Private Entreprise Program - PEP yang didanai oleh badan pengembangan kerjasama internasional Canada – CIDA // Selain itu / pemkab takalar juga telah menggelar pameran keramik glasir yang hanya ada ada di sulsel // Dengan harapan expo itu mampu mendorong perkembangan pasar gerabah ala takalar //
Sebetulnya ada peluang yang bisa dimanfaatkan para perajin // Menurut Hamzah / pemerintah daerah tengah memikirkan pembukaan peluang pasar yang lebih luas // Tidak hanya terkonsentrasi di wilayah Sulawesi dan kawasan Indonesia timur / tetapi diharapkan bisa ke kawasan lain bahkan ke luar negeri // Salah satu harapan yang segera terealisasi adalah peluang masuknya gerabah takalar ke hotel-hotel ber bintang di Indonesia // Di masa-masa sebelumnya / gerabah yang masuk hotel adalah produksi dari Jawa / tetapi kini hotel-hotel di Makassar telah banyak yang menawarkan produk lokal tersebut //

BY : hendra nick

Wednesday, May 03, 2006

SHIE CAI SAH THAN DAN CHE – TULISAN DIATAS PASIR


SHIE CAI SAH THAN DAN CHE – TULISAN DIATAS PASIR
By : Andre Wongso – in Smart FM

Di pesisir sebuah pantai, tampak dua anak sedang berlari-larian, bercanda dan bermain dengan riang gembira. Tiba-tiba, terdengar pertengkaran sengit diantara mereka, salah seorang anak yang bertubuh lebih besarmemukul temannya sehingga wajahnya menjadi biru lebam. Anaka yang di pukul seketika diam terpaku. Lalu, dengan mata berkaca-kaca dan raut muka merah menahan sakit, tanpa berbicara sepatah katapun, dia menulis dengan sebatang tongkat di atas pasir: “Hari ini temanku telah memukul aku !!!”
Teman yang lebih besar merasa tidak enak, tersipu malu tetapi tidak berkata apa-apa. Setelah berdiam – diaman beberapa saat, dasar anak-anak, mereka kembali bermain bersama. Saat lari berkejaran, karena tidak berhati-hati. Tiba-tiba, anak yang di pukul tadi terjerumus ke dalam lobang perangkap yang di pakai menangkap binatang “ Aduh …Tolong…Tolong!” ia berteriakkaget minta tolong. Temannya segera mengok ke dalam lobang dan berseru “Teman, apakah engkau terluka? Jangan takut, tunggu sebentar, aku akan segera mencari tali untuk menolongmu”. Bergegas anak itu berlarimencari tali. Saat dia kembali, dia berteriak lagi menenangkan sambil mengikatkan tali ke sebatang pohon “Teman, aku sudah datang! Talinya akan ku ikat ke pohon, sisanya akan ku lemparkan ke kamu, tangkap danikatkan di pinggangmu, pegang erat – erat, aku akan menarikmu keluar dari lubang”.
Dengan susah payah, akhirnya teman kecil pun berhasildi keluarkan dari lubang dengan selamat. Sekali lagi, dengan mata berkaca-kaca, dia berkata, “Terima kasih, sobat!”. Kemudian, dia bergegas berlari mencari sebuah batu karang dan berusaha menulis di atas batu itu “Hari ini, temanku telah menyelamatkan aku”. Temannya yang diam-diam mengikuti dari belakang bertanya keheranan,”Mengapa setelah aku memukulmu, kamu menulis di atas pasir dan setelah aku menyelamatkanmu, kamu menulis di atas batu?” anak yang di pikul itu menjawab sabar,”Setelah kamu memukul, aku menulis di atas pasir karena kemarahan dan kebencianku terhadap perbuatan buruk yang kamu perbuat, ingin segera aku hapus, seperti tulisan diatas pasir yang akan segera terhapus bersama tiupan angin dan sapuan bersama tiupan angin dan sapuan ombak. Tapi ketika kamu menyelamatkan aku, aku menulis di atas batu, karena perbuatan baikmu itu pantas di kenang dan akan terpatri selamanya di dalam hatiku, sekali lagi, terima kasih sobat”.

HIDUP DENGAN MEMIKUL BEBAN KEBENCIAN, KEMARAHAN DAN DENDAM, SUNGGUH MELELAHKAN. APALAGI BILA ORANG YANG KITA BENCI ITU TIDAK SENGAJA MELAKUKAN BAHKAN MUNGKIN TIDAK PERNAH TAHU BAHWA DIA TELAH MENYAKITI HATI KITA, SUNGGUH KETIDAKBAHAGIAAN YANG SIA-SIA. MEMANG BENAR … BILA SETIAP KESALAHAN ORANG KEPADA KITA, KITA DI TULISKAN DI ATAS PASIR, BAHKAN DI UDARA, SEGERA BERLALU BERSAMA TIUPAN ANGIN, SEHINGGA KITA TIDAK PELU KEHILANGAN SETIAP KESEMPATAN UNTUK BERBAHAGIA.

SEBALIKNYA … TIDAK MELUPAKAN ORANG YANG PERNAH MENOLONG KITA SEPERTI TULISAN TERUKIR DI BATU KARANG. YANG TIDAK AKAN PERNAH HILANG UNTUK KITA KENANG SELAMANYA.

Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training

Thursday, April 27, 2006

“ Sahur keliling yang penuh berkah “

Sayup – sayup lantunan irama dangdut mulai terdengar di sejumlah ruas jalan di kota makassar // Dendang penyanyi orkes yang biasanya hanya terdengar pada saat resepsi pernikahan kini / mulai terdengar dengan lirik yang di ubah untuk membangunkan masyarakat makassar untuk sahur // Lantunan musik yang di mainkan apik oleh sekelompok remaja tersebut / memecah kesunyian jalan setapak yang mereka lalui //
Insert : Soundbite_orkes sahur keliling 01

Belasan remaja membawa gerobak air yang di lengkapi dengan sound sistem // Serta beberapa alat musik elektrik lainnya yang di ikuti kereta dorong berisikan generator dengan kekuatan daya sebesar 1500 watt // Menyusuri jalan setapak di sekitar kelurahan Lette Kecamatan Mariso // Nampak lampu pekarangan masyarakat yang berada di sekitar kompleks PU di jalan Rajawali / satu per- satu mulai di nyalakan // Menandakan iring-iringan belasan remaja tersebut berhasil membangunkan warga sekitarnya untuk mempersiapkan penganan untuk sahur //
Insert : Soundbite_orkes sahur keliling 02

Kelompok yang menamakan diri sebagai komunitas masyarakat Islam kelurahan Lette tersebut // Menjalankan rutinitas sahur keliling itu sejak awal ramadhan 4 oktober lalu // Koordinator Komunitas Masyarakat Islam kelurahan Lette Ashary Amdar mengatakan / aktifitas mereka telah mendapat persetujuan daru Lurah setempat // Aktifitas tersebut biasanya di mulai pada pukul 02 dini hari hingga pukul 03.30 pagi // Ashary mengungkapkan / biasanya para remaja yang tergabung dalam kelompok tersebut sahur usai menjalankan aktifitas tersebut //
Insert : 151005 – Ashary_aktifitas bangun sahur – hendra – news 02

Menurut Ashary / terbentuknya kelompok itu berawal dari aktifitas para pengamen bersama remaja Lette / yang biasanya membawa beberapa alat musik // Mereka nongkrong di sudut jalan menghibur warga yang sedang ber-aktifitas menanti waktu imsak // Ashary mengungkapkan / untuk mewadahi aktifitas kaum muda di daerah Lette // Ia bersama dengan warga lainnya menyewa peralatan orkes “Mallombasan’ / dan menjalani rutinitas membangunkan warga kelurahan Lette untuk sahur //
Insert : 151005 – Ashary_awal terbentuk – hendra – news 02

Pendapatan yang mereka peroleh rata – rata sebesar 80 ribu rupiah dalam seharinya / ungkap Ashary // Biasanya hasil sahur keliling tersebut di bagikan kepada 15 orang anggota tetap kelompok tersebut // Namun / hasil tersebut biasanya pemain dan penyanyi orkes yang menerima pembagian yang lebih besar di banding anggota lainnya // Pasalnya / para anggota lainnya hanya sebagai team penggembira saja yang berasal dari warga masyarakat sekitarnya //
Insert : 151005 – Ashary_pembagian hasil – hendra – news 02

Ashary juga mengeluhkan pendapatan yang mereka peroleh tahun ini mengalami penurunan di banding tahun kemaren // Pasalnya / kelompok – kelompok sahur keliling saat ini telah banyak yang bermunculan // Sehingga / lahan pendapatan mereka dalam satu kelurahan mulai berkurang // Di mana untuk kelurahan Lette saja telah ada sebanyak 4 kelompok orkes keliling yang beroperasi //
Insert : 151005 – Ashary_mulai menjamur – hendra – news 02

Hal itu di akui juga oleh salah satu penyanyi orkes kelompok masyarakat Islam Kelurahan Lette Jumriani // Menurut Ibu rumah tangga yang berumur sekitar 20-an tahun tersebut / nafkah yang di perolehnya itu di gunakan untuk menutupi kebutuhan sehari – hari // Pasalnya / sejak kenaikan harga BBm suaminya yang biasanya berdagang daging di pasar agak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya tersebut // Menurut Jumriani / hasil orkes keliling yang dalam sehari di peroleh sebesar 15 hingga 20 ribu perhari-nya itu / cukup untuk membeli kebutuhan pokok dapurnya selama bulan ramadhan //
Insert : 151005 – Jumriani_kebutuhan hidup – hendra – news 02

Selain dapat memperoleh penghasilan / orkes keliling tersebut juga merupakan wujud Jumriani sebagai umat Muslim untuk menambah pahala selama bulan ramadhan ini // Walaupun / kesulitan untuk memenuhi kebutuhan menjelang lebaran semakin di rasakan keluarga Jumriani // Namun / Ia dan suaminya tetap merasakan kedamaian dalam menunaikan ibadah selama bulan ramadhan ini //

By : Hendra Pati – Smart Fm makssar